kata-kata yang kita ucapkan kadang tidak sadar telah melukai atau menusuk hati orang lain. alangkah sakitnya jika tusukan itu menimbulkan bekas luka yang tidak bisa pulih.
berusaha diam bukan berarti acuh terhadap suatu masalah.
Diam berusaha untuk menganalisa bukan berarti diam tanpa tindakan.
ada Cerita klasik tentang seorang bapak yang menanamkan nilai kepada anaknya yang suka marah.
sang bapak khawatir setiap kali melihat anaknya marah dan dendam kepada orang lain. Sang bapak berusaha mengajak anaknya bercakap-cakap tentang kelakuan anaknya.
“nak, kenapa kamu selalu marah dan jengkel sama orang ketika keinginanmu
tidak terpenuhi? ingat, yang menurutmu baik belum tentu baik menurut orang dan yang menurutmu jelek, belum tentu jelek menurut orang lain’
“iya yah, mau gimana lagi? aq pingin selalu bahagia setiap hari dan semua orang harus menurutiku”
‘kamu harus mulai menahan diri ”
‘gini caranya, kamu lampiaskan marah dan bencimu dengan menancapkan
paku pada pohon ini. anggap setelah kamu menancapkan ini, semua marah,
benci dan dendammu sudah habis.OK!”
‘kalau kamu bisa menahan marah dan bisa memaafkan orang, kamu ambil paku yang kamu tancapkan’
—–
‘yah,selama 10 hari aku hanya menancapkan 36 paku, dan aku mencabutnya sebanyak 20 kali.
rasanya lebih senang, yah.’
‘bagus…….kamu memang anak yang manis’
——–
‘yah, selama 1 bulan ini sudah tidak ada paku yang tertancap lho
‘
‘anak ayah semakin cantik karena tidak mudah marah dan selalu ceria.
apalagi sekarang sudah pandai memaafkan.’ (sambil tersenyum:))
—
sang ayah membawa putrinya menuju pohon yang selama ini ditancapi
paku oleh anaknya.
‘lihat,,,,,pohonya sekarang sudah terbebas dari paku’
‘iyaa…….yah”
‘tapi , ada bekasnya kan?”
‘iyaa…….yah”
‘mungkin selama kamu marah atau kamu dendam, ada kata-katamu yang sudah menyakiti orang lain. Walau telah termaafkan, tapi bekasnya tetap masih ada kan?’
‘o………’
‘lebih baik berusaha menahan diri dari amarah ya, nak’
‘insya Allah…….yah’
——–
tidak terasa menancapkan paku itu sangat mudah. tapi mencabutnya tanpa menimbulkan bekas adalah hal yang sangat mustahil.
sekecil apapun akan membekas.
maafkan jika aq mungkin pernah menancapkan paku itu……..
pake paku payung ato paku apa? (halah, gak penting) lagi pingin asal nulis nih…
Oleh: nuha85 on Januari 1, 2008
at 3:29 am
itulah susahnya hidup. Kadang kita bahkan ngga menyadari dan tak akan pernah menyadari bahwa kita telah melukai orang lain. Bahwa hidup itu pun tak selalu lurus dan nyaman. kalau ngga percaya lihatlah paku itu sendiri. selurus-lurusnya paku, ujungnya pasti akan bengkok juga. apalagi paku bekas(hehehe).
Oleh: Matt De Stupid King on Januari 5, 2008
at 10:00 pm
hoHOho..
Skidut eh Slidut ding.. heHEhe..
numpang kasih komen ae.. hiks5x..
Tapi critone apik kok Fit(sumpah wis..)
Oleh: galihyonk on Januari 23, 2008
at 5:12 am
=> nuha 85
gak papa mbak, thanks.
=> matt
paku bekas, teyengen, bengkok, pasti akan menimbulkan luka yang parah
=>galihyong
jadi terharu,,,,,,,
padahal, aq paling gak bisa nulis lho
n tulisanq kayaknya juga susah dimengerti
but, thanks
Oleh: slydut on Januari 28, 2008
at 8:35 am
ya setidaknya bekas itu jadi kenang-kenangan lah, daripada tidak ada kenang-kenangan
Oleh: scouteng on Januari 28, 2008
at 4:25 pm
gimana toh matt, yang namanya paku ya gak mesti lurus, ujung satunya pasti melincip dan ujung lainnya ber’topi’ ato apalah istilahnya. kalo gak gitu ya gak bisa dipakuin dengan mudah ke tembok, hahaha…..
Oleh: nuha85 on Januari 29, 2008
at 5:50 am
OMG!!!!!
Klo dah tau ojo komen thok yo… Praktek di kehidupan nyata.
Oleh: Matt De Stupid King on Januari 31, 2008
at 4:07 pm
praktek nancepin paku to matt?
Oleh: noe on Februari 1, 2008
at 2:35 am
sapa bilang mudah? lihat aja tuh sampe ada tukang tersendiri yang bertugas menancapkan paku. brarti kan sulit.
)
Oleh: dodo on Februari 15, 2008
at 8:33 pm